Langkah Bank Neo Commerce Tingkatkan Pengalaman Perbankan Digital

  • Share

Langkah Bank Neo Commerce Tingkatkan Pengalaman Perbankan Digital.

Jakarta, Kedai Apple – Pertumbuhan jumlah bank digital di Indonesia terus meningkat secara signifikan. Salah satu pemain baru tersebut adalah Bank Neo Commerce (IDX: BBYB) yang sebenarnya adalah wajah baru dari Bank Yudha Bhakti yang diubah namanya.

Sebelumnya, bank ini dikuasai oleh grup Gozco (Tjandra Mindharta Gozali) bersama dengan sejumlah induk koperasi di lingkungan TNI. Kini bank Neo Commerce dimiliki Gozco bersama Akulaku, salah satu fintech dibidang pembiayaan konsumen.

Sebagai bank digital yang baru, Bank Neo Commerce pun berusaha terus meningkatkan kualitas dan mempersonalisasi pengalaman nasabahnya. Setelah soft launching aplikasi bank digital pada Maret lalu, Bank Neo Commerce melakukan investasi di berbagai lini, terutama infrastruktur teknologi untuk bisa menawarkan berbagai inovasi digital dan menjadi bank digital terdepan di Indonesia.

Aplikasi digital bernama neo+ kini diunduh sebanyak lebih dari lima juta di Google Play Store dan satu juta unduhan di Apple Store per Agustus tahun ini. Sehingga total ada 6 juta unduhan aplikasi bank digital tersebut. Pertumbuhan tersebut disebabkan minat masyarakat mulai tinggi terhadap bank digital dan besarnya animo nasabah baru atas produk dan layanan perbankan BNC.

Baca juga: Integrasi Layanan, Bayar di Aplikasi Gojek Kini Bisa Pakai Bank Jago

Bank Neo Commerce Gandeng Qualtrics utnuk Wawasan Pasar

Ilustrasi belanja online (photo: pixabay/rupixen)
Ilustrasi  (photo: pixabay/rupixen)

Penelitian Qualtrics (Nasdaq: XM), penyedia dan pelopor Manajemen Pengalaman asal Amerika Serikat (AS) melakukan riset nasabah dalam menentukan bank digital pilihannya. Hasil riset tersebut melaporkan bahwa nasabah Indonesia lebih memprioritaskan pengalaman produk dan pelanggan yang lebih baik dibandingkan besaran biaya transaksi dan imbal hasil investasi.

Hal ini pula yang kemudian membuat Bank Neo Commerce bekerja sama dengan Qualtrics untuk memperkuat awasan pasar dan nasabah di sektor perbankan Indonesia. Dengan menggunakan Qualtrics, bank digital ini mampu melakukan riset terkini terkait pasar dan nasabah guna memahami perubahan preferensi nasabah dengan cepat. Sekaligus mendapatkan insight yang membantu mengidentifikasi produk, layanan dan pengalaman sesuai dengan kebutuhan nasabah.

Beragam studi telah dilakukan bersama, di antaranya tren preferensi dan perilaku nasabah, kepuasan nasabah, serta pengujian penggunaan dan konsep layanan. Semuanya untuk memastikan bisnis Bank Neo Commerce mendapat manfaat dan keunggulan dari platform penelitian Qualtrics yang modern dan agile.

Bank Neo Commerce juga dapat terus meningkatkan kualitas dan mempersonalisasi pengalaman nasabahnya dengan menggunakan Qualtrics XM Directory. Ini adalah salah satu database untuk seluruh data pengalaman nasabah dan karyawan.

Beragam tanggapan yang terkumpul akan disimpan di XM Directory dan digabungkan dengan data operasional Bank Neo Commerce, seperti Customer Relationship Management (CRM) dan perangkat otomasi pemasaran. Kumpulan data ini kemudian digunakan untuk membangun profil nasabah yang berbasis data, guna memudahkan perusahaan dalam membangun hubungan dan  memberikan pelayanan sesuai dengan preferensi nasabah.

Tjandra Gunawan, Presiden Direktur Bank Neo Commerce, mengatakan dengan merancang ulang program riset pasar tradisional bersama Qualtrics, perusaaan dapat menghadirkan kekhasan tersendiri di tengah kompetisi sektor perbankan digital. Melalui akses langsung (real-time) terhadap wawasan pasar terkini yang akan membantu terus melangkah dengan tepat dan percaya diri dalam meningkatkan pengalaman nasabah, perusahaan, dan produk kami secara berkelanjutan.

“Dengan menggunakan temuan dari riset pasar, kami akan lebih memahami nasabah kami dari berbagai aspek, serta memberikan neo banking experience bersama Bank Neo Commerce melalui visi Banking, Above, and Beyond,” ujarnya.

Kinerja Bank Neo Commerce

Bank Neo CommerceDalam laporan keuangan semester I, BBYB menyalurkan kredit sebesar Rp 3,8 triliun, meningkat lebih dari 30 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Dilansir dari Merdeka.com, peningkatan ini berimbas pada kenaikan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income) sebesar 42 persen atau setara Rp 40 miliar menjadi Rp 136 miliar.

Dari sisi aset juga terdapat kenaikan signifikan, yakni 75 persen menjadi Rp7 triliun. Kenaikan aset tersebut akibat kenaikan signifikan sisi perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK). DPK di Juni tercatat Rp 5,1 triliun, meningkat 70 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang Rp 3 triliun.

Sementara itu beban operasional pada semester I ini juga meningkat signifikan, dari Rp 76 miliar per Juni 2020 menjadi Rp 268 miliar per Juni 2021. Hal itu mengkontribusikan dibukukannya rugi sebelum pajak sebesar Rp 132 miliar.

Tjandra menjelaskan salah satu faktor peningkatan biaya operasional adalah aktifnya melakukan investasi khususnya di bidang teknologi dan keamanan digital yang harus dibangun secara serius. Faktor lainnya, juga harus membekali diri dengan talenta-talenta baru yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan yang ahli di bidangnya.

“Sebagai bagian dari komitmen Bank Neo Commerce untuk menghadirkan layanan perbankan digital secara end-to-end di Indonesia, kami akan senantiasa berfokus pada peningkatan produk dan layanan kami sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang,” pungkas Tjandra.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *